Minggu, 02 Oktober 2011

Cerita Dilema Fernando Torres & Steven Gerrard (Akhir musim EPL 2009/2010, Sebelum World Cup 2010)


"Gamang"
Itu adalah sedikit dari gambaran suasana hatinya saat ini. Bisa dibilang, ini adalah musim terburuk bagi Liverpool. Merseyside merah itu hanya mampu finish di urutan ketujuh, bahkan untuk tampil di Liga Champion musim depan pun tak bisa. Tak perlu ditanya lagi rasa kecewa dan sakit yang mendera pemuda itu. Ia kecewa, sangat. Seorang Fernando Jose Torres tak sanggup membawa timnya untuk masuk ke ajang para juara.
Ia sakit, tapi orang yang kini berdiri di hadapannya jauh lebih sakit lagi.
Steven Gerrard bagai tak bernyawa saat ini. Ekspresinya kosong, bersandar di dinding yang dingin. Mungkin berkat dinding itulah sosok itu kini tidak jatuh ambruk. Ia tidak menangis, tapi wajahnya jauh lebih menyedihkan dari orang yang menangis. Membuat Fernando ingin sekali memeluknya, membebaskan segala beban yang diderita sang kapten.
Tekanan sebagai kapten Liverpool yang terobsesi pada gelar juara kini terus-terusan mendera Steven. Orang seakan lupa, Pangeran Liverpool ini juga manusia.
“Stev,” panggil Fernando pelan. Takut mengganggu pemuda Inggris itu. Di ruang ganti ini hanya ada mereka berdua. Steven ingin sendiri, berbagai kenyataan pahit yang muncul membuatnya butuh waktu cukup lama untuk bisa menerima semua itu.
Di saat yang lain memutuskan untuk memberi waktu Steven untuk berpikir seorang diri, Fernando dengan keras kepala tetap memutuskan untuk berada di sisi sang kapten. Berada di sisinya dalam keadaan apapun. Ia tahu Steven bisa mengusirnya kapan saja, tapi nyatanya ia masih tetap berdiri di ruangan yang sama dengan Pangeran Liverpool itu. Steven tak akan mungkin mengusir Fernando.
Steven bergeming, tak merespon panggilan itu.
Fernando menghela nafas panjang. “Dengar, aku—“
“Hey,” suara serak itu memotong ucapan Fernando. “Apa itu benar?”
Sang latino mengerutkan kening, merasa aneh dengan pertanyaan itu. “Apanya?”
Manik hijau Steven kini memandang Fernando, menghujamnya. “Berita itu,” jawabnya sambil mengedikkan kepalanya menunjuk setumpuk koran di salah satu meja. “Kau akan meninggalkan Liverpool.” Meninggalkanku.
Pertanyaan itu bagai tamparan keras bagi Fernando. Tak bisa dipungkiri, ada banyak klub yang tertarik untuk membelinya. Klub yang jauh lebih sukses dan makmur dibanding Liverpool. Tapi apakah Fernando akan menerima pinangan itu?
Apa yang akan ia dapat memangnya jika pergi dari klub ini dan berganti dengan klub yang lebih makmur? Gaji yang lebih tinggi kah? Gelar juara bergengsi? Kontrak eksklusif?
Tidak, bukan itu yang Fernando inginkan. Apa artinya memiliki gaji besar dan menjuarai Liga jika tanpa seorang Steven Gerrard di sisinya? Apa arti dari semua itu jika ia harus meninggalkan Steven sebagai ganti kesuksesan yang kelak akan ia dapat?
“Aku—tidak akan pergi,” ucapan itu terdengar ragu. “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Diucapkan dengan intonasi serupa seperti kalimat pertama; ragu.
Steven tersenyum masam. “Dia juga mengatakan hal yang sama...dulu.”
Tak perlu menjadi ilmuwan roket untuk tahu bahwa ‘dia’ yang dimaksud adalah Xabi Alonso. Rekan senegara sekaligus sosok yang selama ini akrab dengan Steven. Tapi siapa sangka, akhirnya Xabi meninggalkan Anfield juga.
“Jangan samakan aku dengannya,” lirih Fernando. Menolak bila disamakan dengan pemuda yang pergi seenaknya dan meninggalkan semuanya dalam kekacauan. Membuat Steven hancur.
“Ya, kau bukan dia,” Steven mengiyakan, sudut bibirnya terangkat. Membentuk senyuman yang lebih tulus. “Tapi jika kau pergi, apa bedanya kau dengannya?”
“Karena itu kubilang bahwa aku tak akan pergi!”
“Kau berhak, kok.” Kata-kata yang mengagetkan itu keluar begitu saja dari mulut Steven. “Liverpool cepat atau lambat akan bangkrut, sebuah keputusan bijak jika kau memang ingin pergi...” suara itu melemah, dan kontak mata kembali urung dilakukan. Hanya lantai keramik itu yang kini menjadi objek satu-satunya yang diamati Steven.
Fernando menggelengkan kepalanya. “Well, jika pergi dari sini adalah keputusan bijak, dan tetap tinggal adalah keputusan bodoh; maka keputusan bodoh lah yang kupilih.” Tegasnya.
Steven hanya memasang wajah penuh derita, tidak tahu harus membalas apalagi ucapan itu. “Kenapa?” hanya itu yang sanggup terlontar.
Air muka Fernando kini melunak, berubah menjadi lembut. “Karena aku peduli padamu, karena aku tak mungkin meninggalkanmu dalam keterpurukkan ini. Aku bukan dia, aku bukan Xabi. Aku akan tetap ada kapanpun kau butuhkan.” Berbeda dengan yang tadi, kalimat panjang ini Fernando ucapkan dengan berapi-api, penuh determinasi. “Kita bisa melalui ini semua, berbagai masalah kita hadapi bersama.” Pandangannya tertuju pada manik hijau itu.
“Selama musim panas segalanya bisa berubah.” Ucapan pelan itu seakan mementahkan pernyataan tegas Fernando tadi. Skeptis, bukan sifat alami Steven, hanya muncul jika keadaan memaksa saja.
“Semuanya bisa berubah. Tapi ada satu hal yang akan selalu sama; aku. Aku tak akan berubah.”
Steven mengadahkan kepalanya, menatap sang Spaniard. “Bisakah aku mempercayaimu?”
“Ya,”
“Untuk sekarang dan selamanya, maukah kau berjanji? Jangan—jangan pernah meninggalkanku.” Ucapan itu lirih dan diucapkan dengan suara serak dan pandangan mata tak fokus. “sebelum aku sendiri yang menghendaki.” Kalimat terakhir itu nyaris tak terdengar.
Fernando bukan seorang yang menjilat ludahnya sendiri. Ia tahu pasti apa konsekuensi jika ia mengiyakan perjanjian kecil ini, ia akan terikat dengan sang kapten. Sebelum mendapat izin Steven, ia tak akan bisa meninggalkan Liverpool.
Tapi, bukankah memang itu yang ia inginkan? Terus bersama Steven apapun yang terjadi. Menemaninya dalam keadaan terburuk sekalipun. Bahkan walau harus terdegradasi, asal ia dan Steven bersama, semua itu bisa dihadapi.
“Aku janji. Fernando Jose Torres tidak akan pernah meninggalkan Steven George Gerrard sebelum diizinkan.”
.
.
Hey, tidakkah kau melihatnya? Di antara kita berdua, ada satu kesepahaman. Kita tidak akan saling meninggalkan. Ikatan di antara kita sudah terlalu kuat, hingga bila salah satu dari kita pergi hanya akan melemahkan yang lain.
END

Download Full Match Liverpool vs Ac Milan Final 2005

Ac Milan vs Liverpool


Line Up:

Ac Milan: Dida, Cafu, Maldini, Stam, Nesta, Gattuso (Rui Costa 112), Seedorf (Serginho 86), Pirlo, Kaka, Shevchenko, Crespo (Tomasson 85).
 

Subs Not Used: Abbiati, Kaladze, Costacurta, Dhorasoo.

Liverpool: Dudek, Finnan (Hamann 46), Traore, Hyypia, Carragher, Riise, Gerrard, Luis Garcia, Alonso, Kewell (Smicer 23), Baros (Cisse 85).
 

Subs Not Used: Carson, Josemi, Nunez, Biscan.


Babak pertama / first half:


Babak kedua / second half:


Babak tambahan dan penalti / extra time and penalty:

Att: 65,000.


Ref: Manuel Enrique Mejuto Gonzalez (Spain). 

Download Liverpool Road To Istanbul 2005






Perjalanan Liverpool menuju Istanbul 2005, bisa kamu unduh lansung disini.
Besar file 419.28 MB


Liverpool Road To Istanbul 2005


http://www.indowebster.com/download/video/liverpool_ucl_2005_road_to_istanbul
Download

For Those Who've Been Asking For Steven Gerrard: My Autobiography (Direct Download)

I've been asked by people to give'em some directed links of Steven Gerrard's autobiography dan hari ini saya akan memberikan secara cuma-cuma link download buku yang paling dicari fans Steven Gerrard di Indonesia. Steven Gerrard: My Autobiography karangan Stevie G sendiri yang diluncurkan pada tahun 2006 saat Stevie masih berusia 26 tahun. Ini adalah sebuah buku tentang dirinya. Buku ini menceritakan tentang bagaimana perjalanan karir Steven Gerrard sebagai pemain sepak bola pro. Buku ini juga menceritakan tentang perjalanan panjang dan sulit Stevie ntuk mencapai tujuannya. Di dalam buki ini, Stevie juga berbicara tentang keluarganya. Dia juga membicarakan tentang peran orang tuanya yang sangat besar yang mampu mendorong Stevie unutk menjadi pemain sepak bola sukses dan kapten di Liverpool seperti sekarang ini.

Bagaimanapun juga, buku ini sarat akan makna kehidupan dan cocok bagi para remaja yang sedang mencari jati diri mereka sesungguhnya.
Ini adalah buku yang sangat menarik, dengan banyak detail dan cerita menarik dari masa kecilnya.

"Saya merekomendasikan buku kepada semua pendukung Liverpool"

Format E-book ini berbentuk PDF dengan size 53 MB dengan jumlah halaman lebih dari 400 halaman dan berbahasa inggris. jadi bisa dibaca pada waktu senggang.

DOWNLOAD HERE

10 Fakta Menarik Luis Suarez

Kepindahan Luis Suarez membumbungkan optimisme tinggi sekaligus keraguan akan kemampuannya menjadi pengganti sepadan Fernando Torres yang akhirnya pindah ke Chelsea. 

Duetnya bersama Andy Carrol di line depan the Reds tentunya akan ditunggu-tunggu oleh banyak penggemar Liverpool di seluruh dunia. 

Namun bagi sebagian penggemar, mungkin belum begitu mengenal sosok pria dengan gigi kelinci yang menjadi duet memukau Diego Forlan di Piala Dunia Afrika tahun lalu. Berikut ini 10 fakta penting tentang pemain asal Uruguay ini. 

Lahir tanggal 24 Januari 1987 di Salto, sebuah kota terbesar keenam di Uruguay. Pemain yang bernama lengkap Luis Alberto Suarez Diaz telah bermain bersama timnas Uruguat sejak tahun 2007

Suarez merupakan satu dari tujuh bersaudara yang dibesarkan oleh single mother. Memulai karir profesional di montevideo side Nacional tahun 2005, Suarez akhirnya memenangkan titel juara bersama klun di tahun 2006 dengan mencetak 12 gol dari 29 pertandingan. 

Kakak Luis, Paolo, juga seorang pemain sepak bola profesional. 

Luis berusia 19 tahun ketika diboyong ke Belanda oleh Groningen untuk kemudian pindah ke Ajax Amsterdam dua tahun kemudian. 

Istri Luis bernama Sofia Balbi, yakni teman masa kecilnya. Mereka menikah tahun 2009 lalu. 

Tahun 2010, Suarez di berikan penghargaan sebagai Pemain Terbaik di Belanda setelah mengakhiri musim 2009/10 sebagai top skor dengan 35 gol di 33 pertandingan Liga (49 gol diseluruh kompetisi_

Agustus 2010, Istri Luis melahirkan seorang anak di Barcelona. Anak perempuan ini kemudian di beri nama Delfina. Masih dalam tahun yang sama, Luis Suarez disejajarkan dengan sosok Johan Cryuff, Marco van Basten dan Dennis Bergkamp untuk kelompok pemain yang telah mencetak gol lebih dari 100 untuk Ajax di seluruh kompetisi. 

Menjadi bagian dari 23 anggota skuad Uruguay di Piala Dunia 2010. Suarez menjadi starter di tiga pertandingan putaran grup. 

Selama Piala Dunia 2010, Suarez total membuat enam penampilan dengan durasi bermain hingga 543 menit dan mengkoleksi 3 gol serta satu kartu merah. 

Luis Suarez mencuri perhatian dunia saat pertandingan perempat final melawan Ghana dimana dia dengan kontroversial menahan terjadinya gol ke gawang Fernando Muslera menggunakan tangannya di menit akhir ekstra time. Untungnya, Asamoah Gyan yang menjadi algojo penalti bagi Ghana, gagal melakukan tugasnya. Uruguay pun akhirnya lolos ke semi final dalam adu penalti. 


Luis Suarez mencegah terjadinya gol dengan tangannya di Piala Dunia 2010 dan langsung dihadiahi kartu merah

In pics: Reds win the derby


Review: Derby Merseyside Milik Si Merah

Skor akhir 0-2 berhasil diamankan oleh Liverpool di Goodison Park, markas Everton. Derby Merseyside pun akhirnya menjadi milik Si Merah berkat kemenangan ini, Sabtu (01/10).

Derby Merseyside dibuka dengan antusiasme tinggi kedua belah pihak, reaksi cepat langsung disuguhkan keduanya. Riuhnya para penonton seolah ikut membakar semangat para petarung di lapangan Goodison Park tersebut.

Marouane Fellaini sempat memberikan tendangan spekulasi ke arah gawang tim tamu, namun bola yang disepak pria kribo tersebut hanya menyamping dari tiang gawang Pepe Reina.

Satu peluang nyata pertama menjadi milik Luis Suarez, menerima umpan silang Dirk Kuyt dari sisi kiri, Suarez menanduk bola, sayang heading-nya lemah dan bola jatuh ke pelukan Tim Howard dengan mudah.

Tim Cahill membuat penonton bersorak ketika tandukannya nyaris menjebol gawang The Reds, Reina berhasil mengatasinya dengan sebuah tip yang akhirnya berbuah corner bagi Everton.

Kerugian di dapat tuan rumah di menit 23, Jack Rodwell dikartu merah akibat dianggap wasit melepaskan tekel berbahaya ke kaki Suarez, meski dari tayangan ulang Rodwell lebih dulu menyapu bola, kartu kuning rasanya lebih pantas.

Liverpool merasa di atas angin karena unggul jumlah pemain, namun Everton bermain rapat dan berhati-hati hingga The Reds terus kesulitan menusuk ke lini vital tuan rumah.

The Reds membuang kesempatan unggul di penghujung babak pertama Dirk Kuyt yang mengambil tendangan penalti gagal menuntaskan tugasnya. Bola yang ia arahkan ke pojook kanan bawah gawang Everton, ditip oleh Tim Howard.

Penalti dijatuhkan wasit setelah Luis Suarez dihajar Jagielka di ujung kotak penalti. Pun begitu dengan sepakan Charlie Adam, tendangan keras yang ia lepas hanya menerpa mistar gawang Everton, praktis momen itu menjadi penutup babak pertama, skor 0-0.

Pada pembukaan babak kedua Louis Saha nyaris membuat Liverpool terkejut, sepakan kerasnya sayang masih sedikit melebar dari sasaran. Tak lama berselang peluang itu dibalas sundulan Andy Carroll namun bola yang sudah memojok mampu dimentahkan aksi heroik Tim Howard.

Pepe Reina berang kepada rekan-rekannya di lini belakang, mereka sempat memberi ruang kepada Saha melepaskan tembakan dengan begitu berbahaya, beruntung bola masih melebar.

Upaya The Reds untuk mencari gol pembuka ditunjukkan dengan strategi yang diubah Kenny Dalglish. dua pemain yang kurang menggigit Downing dan Adam digantikan oleh Bellamy dan Gerrard.

Taktik tersebut nampaknya jitu, Bellamy yang berlari di sisi kiri menyodorkan bola kepada Jose Enrique. Bola ia kirimkan ke tengah dan di sana tendangan first time, Andy Carroll, menggunting bola untuk menjebol gawang Everton, gol perdana Carroll di EPl musim ini membuat The Reds memimpin 1-0.

Keunggulan The Reds berhasil tergandakan di menit 82, Luis Suarez yang melakukan tusukan ke dalam kotak penalti sempat terhentikan oleh kawalan dua bek Everton. Namun malangnya bola yang dibuang Distin mengenai dada Suarez, si kulit bundar yang sempat ia kuasai dengan sekejap ia lesakkan ke gawang Howard dari jarak dekat, 0-2 tuan rumah tertinggal.

Setelah momen tersebut Everton terus tertekan, namun hingga wasit meniup peluit panjang tidak lagi ada gol yang tercipta. Derby Merseyside edisi kali ini pastinya milik Liverpool.


Line Up
Everton: Howard, Hibbert, Baines, Jagielka, Distin, Rodwell, Fellaini, Osman, Coleman, Cahill, Saha.
Liverpool: Reina, Enrique, Carragher, Kelly, Skrtel, Kuyt, Downing, Lucas, Adam, Suarez, Carroll.